Benarkah Bumi Sejatinya Datar, Bukan Bulat?

International

Jakarta - Sebuah surat terbuka ditujukan untuk Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin. Pengirim, yang mengatasnamakan diri 'Admin FE101 Forum' menggugat pernyataan sang astronom bahwa paham yang meyakini bumi datar (flat earth/FE) adalah "dongeng khayalan".

"Kami mempublikasikan FE karena sadar adanya sistem multidimensi yang zalim di seluruh dunia yang - tanpa disadari banyak orang - dibuat oleh elite global untuk memperkaya mereka dengan memiskinkan umat manusia lain di dunia," kata pengirim surat terbuka tersebut.

Lepas dari apa yang disampaikan forum tersebut, anggapan bahwa Bumi itu bulat sudah lama ada.

Sejarah mencatat, pada Abad ke-19 penulis Inggris, Samuel Rowbotham yang mengemukakan hipotesis bahwa Bumi itu datar, mirip piring.

Kemudian, warga Inggris bernama Samuel Shenton mendirikan International Flat Earth Research Society, disingkat dengan Flat Earth Society, pada 1956.

Tujuan utama Shenton adalah menjangkau anak-anak sebelum mereka terlanjur percaya bahwa Bumi itu bulat.

Ia mendapat banyak publisitas, tapi perlombaan angkasa menggerus dukungan kepadanya. Setelah meninggal pada 1971, ia digantikan oleh Charles K. Johnson, seorang pendukung bumi datar dari California.

Johnson terus meningkatkan keanggotaan organisasi hingga sekitar 3.000 orang dan meluangkan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari teori bumi datar maupun bulat.

"Jika memang berbentuk bulatan, permukaan badan air seharusnya melengkung. Johnson telah memeriksa permukaan Danau Tahoe dan Laut Salton tanpa bisa mendeteksi lengkungan apapun."

Kelompok itu menciut pada 1990-an setelah suatu kebakaran di kantor pusatnya dan kematian Johnson pada 2001.

Jauh sebelumnya, konon, sejumlah pelaut pada masa lalu, termasuk sejumlah awak kapal penjelajahan Columbus didera kekhawatiran, mereka berlayar terlalu jauh dan jatuh dari tepian Bumi.

Teori bumi datar juga pernah dijelaskan dalam sebuah tayangan yang diunggah dalam situs berbagi video.

"Seandainya Bumi tidak bulat melainkan datar seperti piring...dengan kepadatan dan ketebalan yang tepat, hidup di tengah-tengahnya terasa sangat normal (seperti yang kita rasakan saat ini)," kata Michael Stevens, dalam serial Vsauce, seperti kutip dari News.com.au.

Kehidupan akan berpusat di tengah Bumi. "Namun, jika Anda bergerak ke tepian, gravitasi di piringan Bumi tidak simetris, condong, mendorong makin kuat."

Video tersebut juga menunjukkan, apa yang bakal terjadi jika seseorang berlari menuju tepian Bumi. Rasanya seperti menaiki tangga yang teramat curam.

Mungkin tak sampai bikin mati, tapi ia pastilah amat kelelahan dan didera kekhawatiran bakal terpelanting ke belakang - ke tengah planet manusia.

Stevens juga menyebut seseorang tak mungkin jatuh dari piringan Bumi. Berkat gaya gravitasi. Beda dengan pendukung flat earth lain yang menyebut gravitasi mitos belaka.

Dia menambahkan, ujung dunia berbentuk datar. Dekat dengan angkasa, sehingga orang yang ada di sana serasa terbang dengan pesawat.

Sejumlah foto berikut ini dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa Bumi itu datar.Pengunggahnya adalah penyanyi rap Bobby Ray Simmons.

Salah satunya adalah penampakan Bumi dari angkasa luar. Menurut sang rapper, tak ada lengkungan dalam foto yang diambil dari pesawat antariksa.

Atau gambar gunung dari ketinggian."Aku tak meyakininya (bahwa Bumi itu bulat)," kata dia kepada 2,3 juta pengikutnya di Twitter, awal 2016 lalu.

Sementara, kelompok Flat Earth Society mengajukan sejumlah argumen untuk mematahkan anggapan bahwa Bumi itu bulat.

Ini yang jadi alasan mereka: saat berjalan di atasnya, permukaan planet ini tampak atau terlihat dan terasa datar. Oleh karena itulah mereka menepis semua bukti yang menunjukkan Bumi itu bulat, seperti halnya foto-foto Bumi dari luar angkasa.

Menurut mereka, itu tak lebih dari rekayasa konspirasi pendukung bahwa bumi bulat yang diatur oleh Badan Antariksa AS (NASA) dan badan pemerintah lainnya. Sebuah konspirasi tingkat tinggi.

Foto-foto Bumi, kata mereka, diolah memakai photoshop. Peralatan GPS pun direkayasa. Tujuannya, mereka belum menyimpulkan, namun diduga motif keuangan.

Salah satu teori terkemuka mereka menyebut Bumi serupa piringan, di mana Lingkaran Arktik berada di pusatnya, sementara Antartika, sebuah dinding es setinggi 150 kaki atau 45,7 meter, berada di pinggirannya.

Mereka mengklaim, NASA mempekerjakan sejumlah orang untuk menjaga ketat dinding es ini, mencegah siapapun memanjatnya dan terjatuh dari piringan bumi.

Sementara siklus siang dan malam Bumi dijelaskan sebagai berikut: matahari dan bulan adalah benda berbentuk bulat berdiameter 51 kilometer, yang berputar di ketinggian 4.828 kilometer di atas bumi yang datar.

Seperti lampu sorot, bola-bola langit itu menerangi bagian yang berbeda dari planet dalam siklus 24 jam. Para pendukung teori ini juga yakin ada obyek tak terlihat bernama "antimoon" (anti-Bulan) yang bertanggung jawab mengaburkan bentuk Bulan, menjadi bulan sabit misalnya.

Lebih jauh lagi, bagi mereka, gravitasi bumi tak lain tak bukan adalah ilusi. Daya tarik bumi, menurut mereka, tidak mempercepat benda ke bawah, namun piringan bumi lah yang mempercepat gerak benda 9,8 meter per detik kuadrat, didorong oleh kekuatan yang dinamakan "energi gelap".

Sementara, apa yang ada di bawah piringan Bumi belum diketahui, mereka yang yakin bumi itu datar, menduga dasar Bumi dibentuk dari batu.

Cara berpikir kelompok Flat Earth Society mengikuti cara pikir "Metode Zetetic", metode ilmiah alternatif yang berkembang pada Abad ke-19.

"Pada dasarnya metode ini menekankan pada rekonsiliasi antara empirisme dan dan rasionalisme, dan membuat kesimpulan logis berdasarkan data empiris," kata wakil ketua Flat Earth Society, Michael Wilmore asal Irlandia pada situs sains, Life's Little Mysteries.

Detail yang mereka mungkin konyol dan seperti gurauan, namun para pendukungnya benar-benar menganggapnya sebagai model astronomi yang lebih masuk akal daripada yang bisa ditemukan dalam buku teks. Singkatnya, mereka tidak sedang membuat lelucon.

Tapi, apakah argumentasimereka benar adanya? Belum tentu. Apalagi, ada lebih banyak teori yang mendukung fakta bahwa Bumi itu bulat.

Karen Douglas, seorang psikolog di University of Kent di Inggris mengatakan, apa yang diyakini mereka yang percaya Bumi itu datar sama dengan penganut teori konspirasi lain yang pernah ia pelajari.

"Mereka menyajikan sebuah teori alternatif tentang sebuah isu atau peristiwa penting, dan membangun penjelasan yang jelas mengapa seseorang berusaha menutupi versi kejadian yang 'sebenarnya'," kata dia seperti dikutip dari situs sains LiveScience.



Warta Sejenis

memuat...

Warta Populer

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!